Katanya kata: orang miskin itu gampang masuk surga dan orang kaya susah masuk surga. Apakah dengan adanya pernyataan seperti itu lantas kita memilih menjadi orang miskin? Orang kaya susah masuk surga bukan berarti tidak bisa masuk kesana. Ibaratnya kita naek kreta, tiket ekonomi bisa di dapatkan dengan mudah oleh siapapun. Tapi fasilitas yang di dapatkan ya seperti itu…panas, kursi rebutan, banyak asap rokok sembarangan dan sering kali harus berdiri dan berdesak-desakan. Tetapi tiket eksekutif meski harus antri dan mahal tapi fasilitas yang di dapatkan luar biasa: AC, makan, snack, tempat duduk enak, dapat selimut dan ndak bakal berdesak-desakan dan tidak ada asap rokok. Begitu pula orang kaya, meski harus lama antri di yaumul hisab, tetapi begitu Allah menemukan bahwa seluruh kekayaan itu digunakan di jalan kebenaran karena Allah, maka surga yang didapatkan pun insyaAllah akan lebih indah dari orang miskin. So, berazamlah/berambisilah menjadi orang kaya tetapi bukan ambisius (ambisi yg menghalalkan segala cara).
Rasulullah sendiri mencotohkan agar kita menjadi orang kaya. Memang pernah beberapa kali dapur Rasulullah terlihat tidak mengepulkan asap…tapi bukan berarti Rasulullah miskin. Beliau sangat kaya, kaya bukan berarti harus mewah tetapi beliau mencotohkan kekayaan yang sederhana. Rasulullah terlihat tidak memiliki harta berlimpah karena memang seluruh kekayaannya digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan dakwah. Para sahabat pun demikian. Abu Bakar yang berani menginfaqkan seluruh hartanya dan menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk istri dan anak-anak beliau bukan berarti kemudian mereka hidup dalam kemiskinan. Abu Bakar berani karena mempunyai 3 hal: reputasi dirinya yang baik dimata masyarakat, ilmu dan kompentensi bisnis yang ia punyai serta koneksi jaringan yang sangat luas sehingga beliau bisa membangun kembali perekonomian dirinya dengan ke-3 hal tersebut.
Maka, mulailah berambisi menjadi kaya:
1. Jangan trauma terhadap kegagalan masa lalu meski telah berkali-kali gagal mengelola bisnis
2. Berusahalah untuk mempunyai etos kerja yang bagus
3. Jangan pelit berinvestasi untuk biaya seluruh tahapan bisnis dan jangan takut resiko
4. Berusaha untuk tidak di dominasi oleh bayang-bayang orang lain (hutang)
Perumpamaan dunia ini ada 4 golongan:
1. Seorang yang dikaruniai harta dan ilmu oleh Allah, lalu dengan itu dia bertaqwa kepada Allah
2. Orang yang dikaruniai ilmu tapi tidak dikaruniai harta. Lalu ia berkeinginan akan membelanjakan harta di jalan kebikan kalo seandainya dia punya harta. Orang kedua ini mendapatkan pahala sama seperti roang pertama.
3. Orang yang diberi harta tapi tidak berilmu dan dia gunakan harta itu secara tidak benar.
4. Orang yang tidak berharta dan tidak berilmu, tapi berandai-andai kalau punya harta akan digunakan spt orang ketiga. Orang ketiga dan ke-4 ini dapat dosa yang sama. HR. Al-Anmari
sumber dari seminar “Berani kaya ala Rasulullah”
by forklin(forum kajian lintas instasi perkantoran) 15 maret 09 @gedung indosat
setuju!
http://harisahmad.wordpress.com/2009/03/18/bonus-bulanan/
Oleh: haris on Maret 24, 2009
at 1:32 pm