Oleh: ikwanti | 20 Desember 2006

ROBOHNYA BENTENG HATI akibat “SMS TAUJIH”

Budaya taujih adalah suatu hal yang sudah biasa di kalangan (ADK) aktivis dakwah kampus. Budaya taujih entah itu dilakukan oleh ikhwan atau akhwat yang notabene mereka adalah partner, sudah seharusnya dijadikan budaya yang membumi dalam dunia dakwah. Budaya taujih ini sering kita temukan dalam event-event syuro’ yang mana memang ketika ada suatu kegiatan sangat diperlukan adanya saling penguatan komitmen.

Pada suatu hari ketika ada event di LDK saya pernah mengirim sms taujih (taujih melalui sms) kepada seorang ikhwan seangkatan. Saya merasa tidak ada gejolak apa pun saat itu karena memang tak ada “perasaan lebih” terhadap ikhwan tersebut (semoga Allah selalu menjaga hati ini). Saat itu beliau berperan sebagai koordinator ikhwan di event tersebut dan saya sebagai koordinator akhwat. Jadi saya kira hal itu wajar jika saya mengingatkan beliau. Beliau pun juga pernah mengirim sms taujih sebagaimana layaknya yang saya lakukan. Dan sekali lagi, hal itu menurut saya masih dalam koridor wajar karena ketika itu kita sama-sama saling membutuhkan nasehat. Dan jangan salah, sms taujih yang saya lakukan juga berlaku di kalangan akhwat. Namun suatu saat terpikir dalam benak saya, bolehkah mengirim sms taujih ke ikhwan atau ikhwan mengirim ke akhwat? Mungkin dalam hal-hal tertentu saja hal itu wajar dilakukan, artinya hal itu tepat dilakukan mungkin ketika ikhwan sebagai partner kita sangat butuh untuk ditaujih setelah mereka (misal) melakukan hal-hal yang menurut kita kelewat batas. Bila tidak ada penyebab yang mengharuskan kita saling berkirim taujih maka hal ini sebaiknya dihindari sebab bisa menimbulkan fitnah.

Pernah suatu saat, saya mendapat kiriman sms taujih dari ikhwan yang lebih senior. Awalnya saya menganggap hal itu biasa karena saat itu memang kita sedang disatukan dalam suatu event kepanitiaan LDK yang cukup berat. Bila tak ada saling penguatan komitmen antar panitia di event tersebut, bisa jadi sebagian dari kita akan ada yang berguguran. Lalu timbul pertanyaan dalam diri saya apakah akhwat lain yang juga disatukan dalam kepanitiaan event tersebut pernah juga dikirimi sms yang sama? Pikiran saya masih positif saat itu. Kalaupun tak ada, mungkin memang dari diri saya saja, ada yang harus diperbaiki. Lama sudah akhirnya event tersebut selesai. Saya pun jarang berinteraksi dengan ikhwan senior itu. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh suatu sms taujih dari ikhwan tersebut yang sempat menghembuskan angin ke-GR an dalam diri saya. Tapi saya berusaha mengacuhkan sms tersebut.

Alhasil tak bisa! Saya pun kemudian mencari tau apakah ada akhwat lain yang sering berinteraksi dengan beliau ada yang pernah dikirimi sms taujih oleh beliau, tak hanya oleh ikhwan itu tapi ikhwan pada umumnya. Ada yang mengatakan pernah tapi bukan lewat sms tapi lewat website LDK yang bersangkutan, itu pun bukan dari ikhwan yang saya maksud tapi ikhwan senior lain. Kata akhwat tersebut ikhwan itu langsung mendapat teguran dari berbagai pihak bahkan dari ustad-ustad penasehat LDK tersebut ikut turut menegur. Ada akhwat lain yang notabene partner beliau dalam satu departemen di LDK, menjawab tak pernah tanpa mengomentari lebih lanjut. Tapi ada seorang akhwat yang satu departemen pula dengan beliau, setelah saya tanya, beliau menjawab tak pernah dikirimi oleh ikhwan siapa pun tapi pernah mengirimi sms taujih ke ikhwan. Katanya lebih lanjut, sebaiknya hal seperti itu dihindari sebab hal itu bisa melemahkan benteng penjagaan diri kita dan bahkan bisa menimbulkan fitnah yang tidak diingankan. Dalam hati saya pun membenarkan apa yang dikatakannya.

Ya benar, sms taujih dari beliau sempat meniupkan angin fitnah ke dalam diri saya dan menumbuhkan benih “perasaan lebih” terhadap beliau (semoga Allah mengampuni). Saya pun awalnya menganggap hal itu juga berlaku pada diri beliau. Ah, tapi saya merenung lagi mungkin itu hanya perasaan saya saja, saya saja yang terlalu “GR”, mana mungkin beliau seperti itu, karena beliau lebih senior dari saya. Apalagi beliau juga lebih lama tertarbiyahi daripada saya. Walaupun hal itu sempat melamunkan angan dalam diri ini, tapi saya harus berjuang melawannya karena bila dibiarkan kelamaan bisa jadi akan merusak niatan dakwah yang saya lakukan.

Akhirnya setelah beberapa hari dari kiriman sms itu, saya pun membalasnya “Jazakallah khoir atas semua kiriman taujihnya selama ini. Afwan baru mengucapkan sekarang. Tapi afwan kabir diri ini bukanlah orang yang pandai menjaga hati.” Saya tidak peduli bagaimanapun tanggapan dari antum yang membaca tulisan saya ini atas tindakan saya membalas sms-nya. Saat itu saya hanya berpikir agar bagaimana saya dan beliau tidak terjadi fitnah, baik itu perasaan intern saya atau beliau. Ya walaupun untuk beliau kemungkinannya kecil karena saya yakin beliau tidak mempunyai “perasaan lebih” kepada saya. Karena dari diri saya tidak ada yang menarik baik segi fisik maupun non fisik. Tapi Allahu alam. Saya berharap dengan balasan sms itu, beliau bisa mengerti dan saya yakin beliau pasti mengerti. Saya pun berharap agar tak ada event apapun yang mengharuskan saya berinteraksi dengan beliau lagi bahkan saya berharap agar tak pernah lagi mendengar/melihat apapun yang berhubungan dengan beliau agar “perasaan lebih” yang sempat tumbuh di hati bisa segera pupus sama sekali dari diri saya.

Di luar itu semua, saya berharap antum yang pernah mengalami hal serupa dengan saya, yakinlah bahwa hal itu hanya sebagai ujian kecil atas kesucian niatan kita dan kemurnian cinta kita pada-Nya. Maka segeralah mengkoreksi diri apakah kita terlalu berlebihan melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan celah ambrolnya “benteng” ikhwan yang notabene partner kita dan segeralah tersadar karena mungkin kitanya saja yang terlalu melebih-lebihkan dan ke-GR an. Bagi antum yang tidak pernah mengalami hal itu, mari kita saling menjaga “benteng” kita dan “benteng” saudara-saudara kita yang ikhwan agar tidak ada celah sekecil apapun yang bisa merobohkannya. Hindari interaksi yang kurang urgen meskipun sebenarnya apa yang kita perbuat berniat baik. Dan jangan lupa saling mendoakan untuk kekuatan benteng tersebut yang notabene bisa terserang dengan mudah dari arah manapun.

Semoga tulisan kecil ini bermanfaat. Dan bagi ikhwan yang merasa, afwan kabir bila diri ini telah terlalu melebih-lebihkan dan ke-GR an. Semoga kita bisa lebih “terjaga” dan Allah pun menguatkan penjagaan kita. Allahu alam bishowab.

Sabtu, 12 Muharam 1427 H/11 Februari 2006 : 02.35

di sudut kamar kecil


Responses

  1. di sudut kamar kecil ??

  2. Assalamu’alaikum
    Salam kenal..

    saya sangat tersentuh dengan tulisan di atas..krn saya juga sempat mengalami hal yang sama. Mudah2an Allah dapt menjaga hati2 kita supaya tetap suci
    Amien

  3. Assalaamu’alaykum..
    Wah…bagus juga tuh postingannya..semoga bisa menyadarkan ane juga. Kadang juga ane mikir kayak gitu..kebanyakan sms taujih malah bikin kita..khususnya dari ikhwan-akhwat atau sebaliknya. Niatnya baek tapi malah dapet respons berbeda.

    Btw, bagus juga tuh sarannya, semoga bisa diterapkan.

    Amin.
    Jzk.
    ———————–
    Do U think degree is enough?

  4. Mbak..
    keren buangetzz
    pengalaman setiap orang an rasa..
    an juga, jazakillah sudah berbagi..dan memberi inspirasi

  5. Assalamualaikum…
    Salam kenal mb…Subhnalallah tulisannya bagus bgt. Mb, ana juga punya pengalaman seperti itu (mirip bgt). Mudah2an bisa senantiasa mengingatkan kita semua untuk senantiasa menjaga hati…karena menjaga hati itu sulit…Semoga benteng hati yang telah sedikit rusak akibat terpaan angin “sms” itu bisa segera diperbaiki, sebelum semuanya menjadi terlanjur roboh…Nauzubillah…
    Jazakillah ya mb…^_^
    Wassalam

  6. Asslmkm ww.
    Subhanallah tulisannya bagus mba ^_^ ana jadi terinspirasi.
    kebetulan dikampus ana lg ada problem seperti itu..
    Jazakillah mba, udah m berbagi.

  7. asslmkm.
    subhanallah tulisannya mba’.
    semoga saja kita bisa menjaga hati kita dan jangan terjebak oleh hal2 yang kita angap baik tapi justru melenakan kita

  8. Yup…yup…betul2…..
    Semoga semuanya bisa think positip n tidak mengotori niatan2 kita…amien

  9. assalamu’alaikum, salam kenal…………
    pengalaman adalah sungguh pelajaran dan guru terbaik kita.ana salut dengan tulisannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: