Oleh: ikwanti | 22 September 2008

Seandainya ukhuwah itu karena Allah

Tabiat teks-teks syar’i dan tingkat pemikiran manusia yang berbeda telah menimbulkan beragam ikhtilaf dalam penafsiran sebuah dalil. Ragamnya penafsiran inilah yang melahirnya banyaknya jamaah kaum muslimin. Suatu jamaah biasanya merupakan kumpulan orang-orang yang mempunyai satu pemikiran dan obsesi yang sama. Jamaah itulah yang mengikat dan menguatkan pemikiran serta obsesi orang-orang yang tergabung dalam jamaah tersebut. Karena dengan berjamaah kita tidak akan merasa sendirian, akan ada yang menguatkan bila semangat untuk mewujudkan obsesi tersebut mulai melemah. Masing-masing jamaah dengan ‘gaya’nya sendiri-sendiri akan berusaha untuk obsesi itu dengan tetap berpegang teguh terhadap penafsiran Al-Qur’an dan hadits yang benar. Sehingga dari kesatuan orang-orang yang tergabung dalam sebuah jamaah lahirlah sebuah pergerakan dalam rangka mewujudkan obsesi tersebut. Dengan kata lain pergerakan atau harakah apapun namanya (bahkan ada yang tidak bernama) adalah suatu keniscayaan dalam berjamaah. Tanpa jamaah bagaimana ya? Tanpa jamaah, mustahil sebuah pemikiran tersebut akan bertahan lama. Tanpa pergerakan mustahil obsesi tersebut akan terwujud. Dan tanpa berjamaah, mustahil orang tersebut akan bertahan dengan kebersihan pikirannya ditengah perang pikirian yang kian dahsyat yang diluncurkan oleh orang-orang yang benci terhadap jiwa dan pikiran yang bersih. Dan syaithan lebih dekat kepada orang yang sendirian.

Disisi lain ikhtilaf adalah suatu hal yang wajar dan harus diakui keberadaannya sehingga tidak menimbulkan sikap merasa benar sendiri dan pendapat yang lain salah. Sikap dan perasaan inilah yang seringkali dijadikan sebagai senjata empuk oleh musuh-musuh Islam untuk memerangi pikiran jernih orang yang berjamaah. Sehingga orang yang baru mengenal jamaah akan pobi terhadap jamaah Islam dan akhirnya memilih untuk sendiri dengan pemikirannya sendiri yang bisa jadi semakin melunturkan idealismenya karena tidak ada ahli tafsir dalil yang mengarahkan pemikirnnya. Karena semuanya dipahami secara otodidak, padahal ilmu apapun akan terjamin lurus bila dipelajari pada ahlinya. Pun demikian dalam memahami ikhtilaf, bila suatu jamaah tidak memperhatikan ilmu bagaimana menyikapi sebuah ikhtilaf, ia akan semakin gencar mengusung ikhtilaf itu sendiri daripada berusaha untuk mengusung obsesi yang menjadi prinsip dan tujuan dari berdirinya jamaah itu. (Tapi lain ceritanya kalau memang pendirian jamaah itu berobsesi untuk mengusung ikhtilaf[sama saja memakan daging saudara sendiri-pent]).

Ikhtilaf adalah sunatullah, dan menjaga ukhuwah itu wajib. Antara sunah dan wajib yang didahulukan adalah yang wajib. Sudahlah teman!! Kalau kau cinta agama ini karena Allah tidak usah memperuncing perbedaan/ikhtilaf karena ikhtilaf pada dasarnya perbedaan pada hal-hal yang memang bersifat furu’/cabang. Pada hal-hal prinsip kita semua (jamaah apa pun) sama, so marilah bersatu mempererat ukhuwah umat Islam atas dasar prinsip itu. Siapa lagi yang akan menjayakan Islam kalau umat Islam sendiri tidak bersatu?

Ikwanti “Ummu Hani(hamba biasa yg masih belajar )”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: