Oleh: ikwanti | 26 Oktober 2008

Bersabar untuk Tak Menanti

Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti
Karena berarti memutuskan adalah juga kesabaran
Karena terkadang penantian
Membuka pintu-pintu syaithan

“Apakah kesabaran ada batasnya?”, begitu Tanya seorang ukhti dalam sebuah forum diskusi. “Bagi sahabat saya itu”, ia meneruskan, “Kesabaran berarti menunggu dan terus menunggu. Padahal ta’aruf ini telah berjalan lama. Sangat lama. Ikhwan itu selalu mengulur dan mengulur. Meminta waktu dan meminta waktu. Terus begitu.”
Nah, apakah kesabaran ada batasnya?
Ada tiga kategori sabar yang diturunkan Al-Qur’an. Ketiganya adalah sabar dalam menghadapi musibah dan ujian, sabar dalam ketaatan, serta sabar untuk menjauhi kemaksiatan. Sabar dalam menghadapi musibah dan ujian adalah sebagaimana yang Allah firmankan:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.” QS. AL-Baqarah 155-156
Yang kedua sabar dalam menaati Allah. Contohnya adalah apa yang Allah firmankan “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya…”QS. Thaahaa 132
Yang ketiga sabar untuk menjauhi kedurhakaan. Ini kita lihat, kita dengar dan kita hayati dari sang pemuda:
Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” QS. Yusuf 33
Maka seringkali kesabaran sejati tak selalu berarti menanti. Suatu saat seorang laki-laki melamar wanita yang hendak dinikahinya. “Lamaran ini kami terima”,begitu jawaban sang wali. ”Tapi kami harap pernikahannya masih dua tau tiga tahun lagi.”
Alangkah lama penantian baginya. Dan terasa lebih lama ketika sang pemuda menyadari bahwa hokum pernikahan baginya bukan lagi sunnah. Tapi wajib. Dia sudah begitu takut terjerumus dalam apa-apa yang dibenci Allah. Di tangannya kini telah ada penghasilan meski belum bias disebut memadahi. Maka ia wajib menikah.
Ia takut. Ia merasa tak sanggup menanti. Dan ia memilih untuk memutuskan. Meski berat. Baginya, disitulah kesabaran. Bukan pada penantian yang membuka pintu-pintu syaithan. Dengan menyebut asma Allah, sang pemuda menguatkan hati. Dan suaranya, meski agak serak,menggambarkan sebuah keteguhan hati.
“Urusan saya sekarang adalah segera menikah. Belum soal dengan siapa. Kalau saya ditakdirkan Allah tak mendapatkan seorang calon mertua disini, pada saat ini, insyaAllah saya akan mencarinya di tempat lain. Dimulai sejak perjalanan pulang nanti, insyaAllah.”
Semua mata terbelalak. Semua telinga sedikit merona. Mulut-mulut yang sedang minum dan mengudap hidangan harus dijaga agar tak tersedak. Untunglah kemudian dia bisa menjelaskan prinsipnya. Alhamdulillah semua bisa memahaminya. Dia memilih sebuah kesabaran. Menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Ditengahnya sebuah resiko menghujam dalam. Resiko tak jadi menikah dengan wanita yang telah dipilihnya. Dan ini diambil demi kemenangan yang lebih besar. Sabar.
Dijalan cinta para pejuang, sabar adalah lautan yang tak bertepi. Tapi menunggu itu ada batasnya. Batas itu adalah garis yang memisahkan ketaatan kepada Allah dengan pintu-pintu peluang untuk mendurhakainya. Dan disitulah kita temui sebuah kesabaran sejati. Dijalan cinta para pejuang sabarlah untuk taat, untuk tak durhaka, untuk menghadapi ujian-ujian yang jatuh menimpa di antara keduanya.

Salim A. Fillah “Jalan Cinta Para Pejuang”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: