Oleh: ikwanti | 20 Desember 2008

Jalan Menggenapkan Dien

Hari ini sy baru tau kalau ada nasyid …hmmm..lupa judulnya apa tp ada liriknya yg
ky begini:
“hari ini hari ini kita akan berjuang…dst”
tp diplesetkan jadi:
“Hari ini hari ini ada walimahan
tpi tidak lagi dlm kepanitiaan
menjadi tamu melulu sangat membosankan
ternyata indah sunah rasul disegerakan
walau sekampung diajak keluarga besan
…dst”

[download nasyidnya]. Ku menemukan nasyid ini di laptop teman ketika aku nyari nasyid untuk kubawa ke kantor, drpd ku dengarkan musik yg g jelas dikantor kan mending dengar nasyid atau murotal. Yang membuat penasaran nasyid ini ada di folder “nasyid orang frustasi”. Eigth….stlh ku dengarkan ternyata nasyid orang frustasi gara2 belum nikah🙂 …maap ya mbak…qt fair aja..he2…

Nasyid ini membuat diriku jd berpikiran tentang nikah. Hmm…seolah2 jalan menggenapkan dien itu hanya nikah. Ya mmg Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam pernah bersabda, “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah untuk separo yang tersisa.” Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radiyallahuanhu dan di hasankan oleh oleh Syeikh Al-Bani. Hm..bagaimana ya? Ya Allah bukannya aku tidak ingin menyempurnakan dien ini ya Rabb. Tapi apa daya, mungkin Engkau menilai aku belum siap sehingga Engkau belum mempertemukannya dengan ku😀

Ada banyak pertanyaan di benakku? Apakah usaha seseorang yang siap nikah itu hanya memasukkan proposal nikah ke MR dan ‘menunggu’; sekali lagi ‘menunggu’ balasan proposal tsb? Apakah nikah bisa menjamin kesempurnaan dien? Bagaimana kalau belum nikah? tidak bisakah menyempurnakan dien dengan jalan lain? [Menurutku sih…daripada mikirin balasan proposal yang tak kunjung berbalas kan mending mengambil hikmahnya kenapa Allah belum mempertemukan dengan pangeran/bidadari kita dan mikir jalan untuk menggenapkan dien dgn jalan lain]. Ini adalah jawaban versiku: (allahu’alam kalau salah mohon dikoreksi)…

Jodoh itu tidak harus lewat MR, ada banyak jalan untuk bertemu dengan pendamping hidup kita. Bisa lewat orang tua, keluarga, teman, dsb. Boleh memilih langsung, tapi yang jelas harus syar’i, melalui perantara bukan 2 arah, melalui istikharah bukan menentukan atas pilihan sendiri. Karena 2 arah rawan terhadap fitnah, fitnah syithan, fitnah nafsu, bahkan fitnah dari jamaah sendiri. Melalui istikharah untuk memastikan bahwa pilihan kita adalah pilihan Allah bukan karena kecenderungan kita sebelumnya. Namun karena kita hidup berjamaah maka kewajiban kita adalah membangun ketsiqohan terhadap jamaah. Ketika jamaah telah membuat prosedur untuk merapikan kinerja dakwah maka seharusnya kita pun menaatinya walaupun menurut kita prosedur tersebut kurang tepat. Tapi kafaah orang-orang yang menentukan prosedur tersebut yakin jauh lebih berilmu daripada kita, sehingga menurutku tidak bisa kita beralasan untuk meragukan kapasitas keilmuan dari orang yang membuat keputusan/prosedur tersebut. Demikian juga dengan nikah, kenapa struktur memfasilitasi, sekali lagi memfasilitasi; dan menurut sy bukan mengharuskan harus memakai fasilitas tsb; untuk menjadi mediasi dalam proses tersebut. Kalau kita menginginkan keluarga Islami maka proses membentuknya pun juga harus islami sejak dari awal. Adanya fasilitas tersebut adalah untuk merapikan dakwah jamaah. Kalau kita bergabung dalam suatu jamaah, maka kenapa kita harus memilih pendamping dengan jalan lain atau dari jamaah lain yang mungkin bisa jadi tidak mendukung gerak dakwah jamaah kita, sementara banyak kader dari jamaah kita yang belum menikah juga? Memang tidak ada yang melarang, tapi kenapa memilih jalan lain dan dari yang lain?

Yang kedua daripada kita frustasi mikir nikah mending kita buat enjoy saja, mengambil hikmah kenapa Allah belum mempertemukan dengan jodoh kita. Hm..yang pasti banyak alasannya. Mungkin Allah menilai kita belum siap walapun kita sudah mengikrarkan diri “siap ustad, siap ustadzah!!”. Bahasa Quran memang luar biasa indah, dalam Surat Al-Baqarah 216 Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu…dst”. Lihatlah lagi diri kita, siapkah secara mental? Sudah siap juga kah keluarga kita? Secara materi dan fisik yakin sudah siap? Siap secara mental untuk berbagi suka duka mungkin kita sudah siap. Tapi itu tidak cukup, menyiapkan kelurga juga penting. Jangan-jangan kita sudah berproses dengan seseorang, tapi keluarga belum dikondisikan sama sekali akhirnya ketika hari khitbah membatalkan karena keluarga tidak bisa menerima! Ini penting, karena sy pernah menemui kejadian ini di temen smp 4x..sang ikhwan tiba2 tdk datang di hari khitbah gara2 kelurganya tidk bisa menerima atau belum siap kalau tahun ini. Wah g sopan banget ikhwan ini, ngajak2 proses tapi blm menyiapkan keluarganya dari awal. Kalau kaya begitu mending kita tunda dulu deh, jangan berproses kalau belum mengkondisikan keluarga. Meski kelurga bisa menerima tapi kalau nyuruh kita lulus dulu, padahal sekarang kita masih semester 7 mending tidak melakukan proses dulu deh karena rawan fitnah. Trus secara fisik siapkah kita? Bangun pagi2, menyapu, mengepel, mencuci, memasak, menyetrika..yang pasti kerjaan lebih banyak, kalau masih single kita melakukan untuk diri kita aja, tapi kalau sudah berkeluarga kita melakukannya untuk pasangan kita, untuk anak-anak kita..wuih…belum lagi aktivitas bina membina dan aktivitas da’awi lainnya..kalau skrang aja masih single kita masih sering ngeluh capek karena cucian banyak, mending kita latihan dulu dan belajar dulu…oke bro?Kalau secara materi menurutku sih bisa sambil jalan, asal sementara bisa makan dan tidur. Bayar kos-kosnya nyicil dl juga oke2 aja, makan penyet tempe 2x kali sehari juga sdh biasa pas msh jd mahasiswa..kecuali kalau mmg dulu pas masih jd mahasiswa biasa hidup mewah ya pastinya akan berat untuk hidup sederhana..(he2..ketauan kalau jarang makan ikan..jadi ingat dulu pas di warung penyet ada ikhwan beli nasi bebek goreng smntara q hnya beli penyet tempe nasi separo lagi….melas amat :(  ). Dan yang tak kalah penting adalah ilmu. Walaupun dikatakan nikah adalah separo dien tapi tidak serat merta orang yg sudah nikah bisa dikatakan dien nya sempurna. G jaminan menurutku. Tanyakan pada diri kita, apa yang bisa kita berikan untuk pasangannya kita, untuk anak2 kita? Bisakah kita mengajak pasangan dan anak2 kita ke surga kalau sekarang masih single saja di ajak syuro jam 6 pagi masih malas atau sering telat, garap tugas kuliah masih sering “mbacem”, bangun kesiangan, hbs subuh tidur lagi, hbs dhuhur jg tidur lagi? Bisakah ngajak pasangan kita ke jalan dakwah, kalau tiap ada taklimat selalu ijin, males bina membina, males terjun ke pemenangan dakwah. Bisakah kita ngajak pasangan kita, anak2 kita ke surga kalau kita masih masih males tilawah, males puasa, males sholat malam, dan seterusnya…. dan seterusnya? Karena meski skrang ketika masih single kita keliatan alim, nelum tentu setelah nikah tetap istiqomah atau lebih meningkat. G ada jaminan bro! Pernah ada temen sepekerjaan, dulunya alim bnget, stlh nikah dan bekerja, dia tidak takut lagi meninggalkan sholat berjamaah. Padahal setauku laki-laki tidak ada toleransi untuk tidak pergi solat berjamaah di masjid. Wah ternyata nikah tida semudah yang kita bayangkan..ku yang nulis saja jadi takut …he2…Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Makanya sekarang daripada kita mikir niakh melulu mending buat persiapan yang matang dari semua sisi. Paling tidak secara minimalis lah…
Mungkin itu hikmahnya kenapa kita belum segera dipertemukan dgn jodoh kita, untuk menutup sesi ini ada taujih yang menarik dari temen jauh, dia kirim lewat sms, begini bunyinya, “kemuliaan kita tidaklah ditentukan dgn siapakah kita menikah. kemuliaan kita ditentukan oleh sbrp besar nilai ketaqwaan kita pada-Nya. Ingatlah Asiyah begitu mulia meskipun bersuami Fir’aun. Dan bgmn pula membangkangnya istri Nuh. Terimalah apa adanya dalam satu paket pasangan kita kelak. Toh kita tdk semulia Muhammad atau Khadijah. Krn pernikahan bukan sebuah prestasi. Tp jembatan mnj prestasi. Smg dgn senantiasa qt meluruskan niat untuk sebuah pernikahan, Allah akan anugerahkan suami/istri yg shaleh/shalehah untuk qt. Dan memudahkan qt dlm berikhtiar.

Selanjutnya mari kita cari jalan untuk mengisi waktu sisa kita, selagi kita masih bisa bernafas dan selagi kita belum nikah tapi bisa menyempurnakan dien tanpa mikir nikah melulu yang bisa jadi justru meracuni diri kita sendiri.
Allahu’alam.

201208–To be continued.


Responses

  1. this is a Good writing….

    Working to worship…
    Married to worship…
    and then all something in our life to worship…
    because the goal of life is worship…

    Salam Ukhuwah
    -Saiful Bahri-

  2. buka2 internet ada tulisan ttg pernikahan antar harokah di

    http://forum.dudung.net/index.php/topic,10601.45.html

  3. Orang frustasi krn ga nikah2 trus nyetel nasyid itu, atau stlh dngr nasyid itu trus jadi frustasi krn kepikiran nikah?

    Afwan kmarin ga sy balas ymnya. Saya ninggal komputer sampe maghrib.

  4. hm..iya ya..benar juga. maybe dua2nya kali…

  5. tulisan yg mengingatkan…..
    saya seneng dg relatifitasnya.

  6. hmmm…tulisannya bu
    jadi gak bisa comment apa2

    yg pasti Allah itu Maha Melihat tiap apa yg kita lakukan, bagaimana ikhtiar kita, dan jg doa2 kita
    Allah Maha Lembut Mengatur semuanya
    takkan ada yg tertukar, smua ada waktunya masing2.
    Klo lahir, meninggal dunia ada waktunya masing2, maka menikah juga ada jatahnya masing2.
    nikah adalah termasuk rizqi yg diberikan Allah pada kita…

    klo msh ditahan oleh Allah, pasti ada maksud dan rencana dr Nya
    ia bukan tujuan akhir, tp awal dari tahap baru, lahan ibadah & amal yg baru
    klo blm saatnya dipertemukan, isilah sisa waktu kita yg ada skrg dg menyelesaikan tugas & tanggung jwb kita masing2..masih begitu banyak PR2 kita..sesuai peran kita masing2

    klo masing single brarti peran kita sbg A, kmdn jika sdh menikah maka peran kita bertambah mnjd A & B, begitu seterusnya..

    semangat ya bu

  7. hehe nulis opo toh🙂 , gaya bngt hihi

  8. mmg begini lah lika-liku laki-laki tak laku-laku…harus tahu diri dulu jgn terlalu percaya diri…

  9. bingung mw komen apa ka,
    lha bahasannya blm nyambung sm fokusq skrg (TA:)

    tp, kalo q pernah baca sebuah taujih, intinya…
    menunggu pasti menyiapkan satu hikmah yg bsr
    lbh baik menunggu daripada ‘hny’ puas dg pilihan yg ada
    karena negara Madinah tidak dibangun hny dlm smlm
    karena bunga mawar tidak mekar hny dlm sehari
    karenha jodoh terbaik utk kita tdk serta merta datang begitu sj, karena mengharap jodoh yang terbaik adalah sama dengan memperbaiki diri kita sendiri

    sekian komentar
    wassalaamu’alaikum

  10. Subahanallah…jazakillah udah dikasih linknya, meskipun kata mbk ika “wah…anti masih kecil dek blum…” tapi insyaAllah tetep ada manfaatnya koq aq baca artikelnya.
    tetep semangat nulis mbk, aq seneng dengan gaya bahasanya ^^

  11. ika!!
    numpang baca dulu yah… kapan2 ntr ta komen isinya
    hehe

    newbie…

  12. telat banget ya aku bacanya,.?
    tapi, dari pada ga baca,.?
    matur nuwun,…

  13. judul nasyidnya apa sih..itu nasyid kocak banget


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: