Oleh: ikwanti | 23 Januari 2009

Pemanis-pemanis Keangkuhan

Tidaklah keangkuhan masuk ke dalam hati seseorang kecuali akan berkurang isi pikiran orang tersebut sesuai kadar keangkuhan yang masuk itu“, kata Muhammad bin Ali. Kesalahan dan dosa akibat keangkuhan, berbeda dengan dosa dan kesalahan akibat godaan syahwat. Menurut Suyan bin Uyainah, “Barangsiapa yang maksiatnya dalam soal syahwat, saya berharap dia akan mendapat pengampunan. Sebab Adam bermaksiat karena syahwat kemudian mendapat ampunan. Tappi orang yang maksiatnya karena kesombongan, maka aku khawatir kalau dia akan mendapat laknat. Sebab iblis itu bermaksiat karena sombong, kemudian ia mendapat laknat.

Orang-orang yang menuding solidaritas untuk rakyat Palestina sebagai kegiatan partisan adalah orang-orang yang angkuh. Orang-orang yang menuding solidaritas untuk rakyat Palestina sebagai kegiatan terselubung adalah orang-orang angkuh. Orang-orang yang melihat solidaritas untuk rakyat Palestina tidak apda tempatnya dengan dalih lebih baik menolong orang di negeri sendiri adalah orang-orang yang angkuh. Mungkin bisa dibuktikan, bahwa orang-orang angkuh itu memang tak pernah membantu Palestina, tidak juga rakyat Indonesia, tidak dengan uang, tidak juga dengan do’a. Saat anak-anak, para perempuan dan ratusan orang mati diterjal rudal, padahal mereka penduduk yang sah atas tanah air yang sah, orang-orang angkuh itu mungkin sedang tertipu, menikmati ketidakberdayaannya dengan selalu menyematkan tafsir negatif kepada orang lain.
Dan ada saja orang ringkih yang melihat carut marut kondisi umat Islam sebagai kesalahan adanya madhab dalam ilmu fikih. Mereka melemparkan keslaahn itu kepada ulama besar pendiri madzhab fikih itu. Lalu dengan gagah mengatakan bahwa dirinya “Madzhab saya adalah tidak bermadzhab.” Padahal ilmunya tak ada seujung kuku ilmu Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab yang para ulama sesudahnya merasa berhutang pengetahuan kepadanya. Ia ulama mandiri, dlam ijtihad maupun dalam soal berpendapat. Mengongkosi kebutuhan salah satu muridnya, Abu Yusuf sekaligus keluarganya selaam dua puluh tahun. Tapi ketika Abu Yusuf mengatakan kepada Abu Hanifah, “Aku belum pernah menemukan orang yang lebih dermawan dari engkau,” Abu Hanifah menjawab, “Bagaimana kalau engkau mengenal guruku (Hamad bin Abu Sulaiman)? Aku tidak mendapati orang yang berkumpul dalam dirinya bermacam kebaikan seperti dia.”
Orang-orang angkuh itu mengatakan, bahkan di mimbar masjid saat ia punya sedikit kesempatan untuk berkhotbah, bahwa madzhab itu emmecah belah umat Islam. Padahal ia sendiri tidak melakukan apapun untuk mepersatukan umat ISlam. Padahal ilmunya tidak seujung kuku ilmu Imam Malik. Yang disebut dengan Imamnya kota Madinah, Imam Negeri Hijrah, yang selalu bersuci sebelum mengajarkan hadits.
Padahal ilmunya tak ada seujung kuku ilmu Imam Syafi’i. Yang hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun, lalu menghafal hadits dan ilmu tafsir di usia tiga belas tahun. Ia berguru pada banyak sekali ulama. Yang sekitar sepuluh samapai tujuh belas tahun mendalami Bahasa Arab fasih dari kabilah Hudzail, kabilah paling fasih dalam bahasa Arab. Padahal ilmunya tak ada seujung kuku ilmu Imam Ahmad, yang menurut Abu Zur’ah, hafal satu juta hadits. Yang karena ketaqwaannya membuat jin yang mengganggu seorang perempuan takut kepada terompah Imam Ahmad dan kabur meninggalkan perempuan itu.

Dicuplik dari Tabawi edisi 22 januari 09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: