Oleh: ikwanti | 28 Januari 2009

Tak bisakah kita mandiri

Pada suatu pelatihan se-Surabaya 11 jan’09 yang lalu, hadir para bapak ibu dan pemuda pemudi yang Peduli Kreatif & Shalih. Acara berdasarkan rencana akan dimulai jam 7.30. Tapi undangannya jam 7, ada juga yang jam 7.30, tergantung sapa yang mengundang. Dan harus pakai sepatu serta atribut lengkap sesuai undangan. Tiba disana para peserta harus absen dan panitia akan memberikan kue, softdrink plus label khusus waktu kehadiran. Perasaanku tdk enak karena ketika mau masuk ruangan disuruh keluar dulu…beberapa enit setelah itu baru dipersilahkan masuk. Dan…thong…theng…saatnya pengadilan…
Yang dapat undangan jam 7…tapi dilabel lebih dari itu silahkan ambil posisi push up. Yang dapat undangan jam 7.30 tapi label kehadiran lebih dari itu sialkan ambil posisi juga. Oke kutrima hukumannya..emang biar disiplin. Tapi begitu penilaian atribut, satu per satu peserta yang gak pakai ditanyain…”Kenapa ndak pakai atribut Pak/Mas..”, sang bapak dan sang mas2 kontan menjawab…”belum dicuci ma istri..“, yang belum punya istri jawabnya pun kreatif, “Karena belum punya istri.” Para ibu-ibu/mbak-mbak pun mencoba adu kreatif dengan menjawab, “karena belum dibelikan suami..“, sayangnya yang belum menikah kurang kreatif dngan mem-bebek “Karena belum ada suami yang bisa membelikan.“…Wuih2…alasan yang cukup kreatif. Tak pernah ku duga mereka menjawab seperti itu. Kupikir benar juga alasan mereka..tapi…tak bisakah kita mandiri…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: