Oleh: ikwanti | 26 November 2009

Meminta doa kepada orang lain boleh gak ya??

Beberapa kali ada yg tanya ke sy ttg meminta doa kepada kyai. Berikut ini smg bisa menjawab.
Rasulullah pernah bersabda, “Kelak ad orang yg termasuk tabi’in terbaik bernama Uwais. Dia mempunyai seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Dia mempunyai sedikit tanda lingkaran putih di tangannya. Oleh Karena itu perintahkan dia (untuk berdoa), niscaya dia akan memintakan ampun untuk kalian.” (HR. Muslim)

Saudaraku,
Uwais Al Qarni disebut oleh Rasulullah sebagai khairut taabi’in, generasi tabi’in yg paling baik. Ia sebenarnya hidup sezaman dengan Rasulullah tapi ia tidak pernah bertemu Rasulullah karena harus merawat ibunya yang sudah renta di Yaman. Doa yang dipanjatkan Uwais, pasti dikabulkan Allah Subhanahu wata’ala. Dan karena hadits itulah, Umar dan Ali radhiallahu anhuma, berusaha mencari Uwais Al Qarni dan ketika menemukannya, mereka meminta agar Uwais Al Qarni mengucapkan doa kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk diri mereka.

Saudaraku,
Keberadaan hadits Uwais Al Qarni, banyak sekali dibicarakan oleh para ulama. Selain karena baktinya kepada orang tua, juga terkait kebolehan atau anjuran kita meminta kepada Allah dengan wasilah (sarana) orang shalih. Nasihat Rasulullah kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhuma untuk emintakan ampunan Allah subhanahu wata’ala melalui Uwais Al Qarni, menjadi pijakan dianjurkannya memintakan doa kepada orang yang kita anggap lebih shalih, untuk diri kita. Tapi pandangan ulama tak sampai sebatas itu. Ada penjelasan lain yang penting kita mengerti, sebagaimana disampaikan Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Ia mengatakan, “Selama permintaan doa itu ditujukan kepada orang yang berdoa dan juga orang yang memintakan doa, itu sama halnya dengan anjuran meminta agar orang lain melakukan suatu kebaikan. Dan itu termasuk perilaku meniru Rasulullah. Tidak ada masalah dalam hal ini. Tapi bila tujuan meminta doa kepada orang lain itu hanya terfokus untuk orang yang meminta agar hajat dan keperluannya di doakan, maka hal ini tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah. Dan inilah permintaan doa yang tidak dikehendaki. Sikap seperti ini bisa mengarah pada meninggalakan kecenderungan kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, lalu lebih cenderung kepada makhluk dan meminta tolong kepada makhluk.”

Hadits terkait Uwais Al Qarni, menurut para ulama adalah kasuistik, dalam arti hanya kekhususan yang terkait orang-orang tertentui seperti disabdakan Rasulullah. Sebagaimana juga permohonan sahabat yang buta dan memintakan doa kesembuhan kepada Rasulullah agara Allah subhanahu wata’ala bisa menyembuhkan penglihatannya. Itu juga kekhususan, terkait posisinya sebagai utusan Allah subhanahu wata’ala yg istimewa. Tapi selain masalah itu, permohonan doa, menurut mereka lebih baik dan lebih utama bila dilantunkan oleh orang yang memiliki hajat secara langsung kepada Allah subhanahu wata’ala.

Saudaraku,
Meminta sendiri apa kebutuhan dan hajat kita kepada Allah subhanahu wata’ala, itu sangat lebih baik ketimbang memintakan doa dengan perantara orang lain. Memohon kepada Allah subhanahu wata’ala melalui amal-amal shalih kita sendiri, itu pasti lebih baik ketimbang mengandalkan amal shalih orang lain. Memohon langsung kepada Allah subahanahu wata’ala, dan menyebutkan langsung apa yang kita pinta, itu pasti akan lebih khusyu dan lebih dirasakan maknanya bila kita sendiri yang melantunkannya. Karena sesungguhnya permohonan yang kita ucapkan sendiri, akan lebih mendekatka kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Inilah yang penting. Kita akan lebih merasakan dekat kepada Allah dan tertuntun untuk memiliki hubungan yang baik dengan Allah subhanahu wata’ala. Hati kita akan tersinarkan oleh rasa luruh, tunduk, tak berdaya, kecil, kerdil, lemah di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Dan itulah suasana yang sangat sulit kita rasakan, selama kita masih mengandalkan atau lebih senang memintakan doa melalui orang lain, meski mungkin orang lain itu orang shalih, kepada Allah subhanahu wata’ala.

Saudaraku,
Ada alasan lain yang penting kita pertimbangkan. Karena ternyata permintaan doa kepada orang lain itu sama sekali tidak menjadi kebiasaan para salafush shalih dahulu. Bila pun ada, itu mugkin terjadi dalam situasi yang sangat jarang sekali. Yang terjadi justru orang-orang shalih dahulu kerap kali menolak saat ia dimintakan doa oleh orang lain. Saad bin Abi Waqosh radhiallahu anhu, pernah dimintakan doa oleh seseorang agar dirinya mendapat ampunan Allah subhanahu wata’ala. Saad mengatakan, “Apakah saya ini nabi?” Seperti juga Zaid bi Wahab rahimahullah yang menceritakan bahwa seseorang berkata kepada Hudzaifah radhiallahu’anhu, “Tolong doakan agar Allah mengampuni saya.” Hudzaifah justru menjawab, “Semoga Allahtidak mengampuni dirimu”.

Sehingga diriwayatkan ketika Thawus didatangi sejumlah orang yang mengatakan, “Wahai hamba Allah, doakanlah Allah subahanahu wata’ala untukku?” Thawus mengatakan, “Berdoalah Anda untuk diri Anda sendiri. Karena Allah subhanahhu wata’ala berfirman, ”Dialah akan mengabulkan doa orang yang telah terdesak, jika ia berdoa kepada-Nya.” Yang disebut berdoa dalam ayat itu adalah orang yang bersangkutan, dan disanalah Allah subhanahu wata’ala akan mengabulkan pintanya. Allah subhanahu wata’ala juga mengatakan, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kamu.” (QS. Al-Mukmin: 60). Dalam ayat itu, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita langsung untuk meminta dan memohon kepada-Nya.

Saudaraku,
Memohonkan doa melalui orang lain, tidak membuat jarak kita kian dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Dan juga bisa memunculkan benih-benih kesombongan betapapun kecilnya, dalam diri yang dimintakan doa. Ini juga harus kita usahakan tidak terjadi. Memohonkan doa mellaui orang lain disadari atau tidak, memberi lintasan pikiran bahwa berdoa melaluiorang tersebut, lebih didengarkan oleh Allah subhanahu wata’ala ketimbang kita sendiri yang melakukannya. Padahal anggapan seperti ini sama sekali salah. Memintakan doa kepada orang lain, emmang tidak dilarang oleh para ulama, Tapi mereka lebih enganjurkan kita menggunakan cara yang lebih utama dan lebih memberi kebaikan.

Saudaraku,
Agar kita ;lebih dekat kepada Allah subhanahu wata’ala. Agar kita bisa mendapatkan suasana intim melalui bulir-bulir doa dan pinta yang kita ucapkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Agar kita belajar bagaimana cara berdoa dan menghiba kepada-Nya. Suapaya kita mengalami suasana berdekat-dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.
Apa yang menjadi hajat kita?Mintalah langsung kepada-Nya.


sumber: tarbawi edisi 215, 19 Nov ’09


Responses

  1. ^.^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: