Oleh: ikwanti | 22 Januari 2010

Disaat sedang sakit

Jumat, 15 januari ’10 jam 21.30
Ntah kenapa tiba2 perutku terasa sakit luar biasa. Tak bisa tidur dan terus saja ku “mengerang-erang” menahan sakit. Ngantuk bangets sebenarnya. Suamiku langsung mengambil minyak kayu putih. Setelah diolesi, sakit ini tak berkurang sedikitpun. Suamiku keluar, memanggil dokter ke rumah karena ku tak kuasa untuk berdiri. Ditekan-tekan bagian kiri dan kanan perutku. Terasa sakit sekali pas dibagian kanan. Katanya kemungkinan usus buntu. Tapi belum tentu. Nanti diliat sj dlm 2 hari kalo masih sakit coba diperiksa lagi. Semalaman suamiku menjagaku hingga ku tertidur.

Ahad, 17 januari ’10
Angin bertiup agak kencang sore ini. Badanku sudah agak enakan, tapi jg masih terasa agak sakit meski perutku dah sembuh. Ku ingin mengaji. Akhirnya berangkatlah aq meski blm sembuh total. Jaket, kaus tangan, kaus kaki tak juga bisa menangkal rasa dingin yg makin lama membuatku makin menggigil diatas motor yang ku kendarai. Masih setengah perjalanan, demam kembali menyerangku. Terpaksa ku beli obat di apotik pinggir jalan. Kubilang “Mbk beli obat demam yang aman buat ibu hamil”. “Hamil brp bln mbk?”, tanya sang apoteker. Termenung aq dibuatnya, krn ku tdk tau aq sdh haml ato blm. Ya beginilah karena sangat menginginkan momongan, ku seringkali menganggap diriku sudah hamil. “Ya ku bilang kira2 1 bln”, amin ya Allah ya mujibas saa ilin…
Sampai ditempat masih juga ku kedinginan meski obatnya sdh ku minum. Gurunya sedang tidak ada. Kupaksa diriku bangkit, kembali ke rumah. Jaket, kaus kaki, kaus tangan, dan kerudung masih ku kenakan. Tak kuasa menahan demam ini, badanku langsung terbaring. Ditambah selimut pun masih jua terasa sangat amat dingin, tapi badanku rasanya seperti terbakar, panas …ya panas sekali; tapi dingin. [he2…aneh!!]
Kupikir ku akan sakaratul maut, bibirku komat kamit beristighfar. Tapi masih sj mikir, kl tiba2 meninggal gmn? Tak ada orang dirumah ini kecuali aq. Kuberharap ada yg membimbingku ketika nanti sakaratul maut.
Menjelang magrib suamiku baru datang, kaget sekali melihatku terkapar tak berdaya dengan demam yg cukup tinggi [pdhl saat itu sudah agak baikan, tidak sepanas yg tadi]. Ku pun sudah mampu untuk bangkit dari pembaringan ini. Suamiku baik sekali, membawakanku sesuatu yang mungkin sangat kusukai di dunia ini; bakso. Sesuap demi sesuap dari tangannya membuatnya makin nikmat dilidah. “Kalo lg sakit gini tak tega melihat mi, spt bunga yg layu” katanya sambil menyuapiku. Syukron my husband. Aq sdh sembuh🙂


Responses

  1. good article
    http://mobil88.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: